Selasa, 12 April 2016

Pendidikan Agama Islam

BAB I PEMBAHASAN

     A.    Mengapa manusia membutuhkan agama

Pada prinsip nya manusia membutuhkan agama untuk menuntunnya mencapai kebahagiaan. Manusia memerlukan bimbinganTuhan dalam menjalani keseharian hidupnya yang senantiasa diwarnai oleh keadaan dan ujian yang tak menentu. Kehidupan manusia selalu diwarnai oleh pergantian antara sukses dan gagal, menang dan kalah, tenang dan resah, gembira dan susah, cinta dan benci dan seterusnya.
Kebutuhan manusiaakan agama sesungguh nya sejalan dengan “natur” kecenderungan manusia sendiri yang selalu ingin mencari kebaikan dan kebenaran. Memang manusia pada hakikat nya ingin melakukan hal yang baik-baik, atau juga yang terbaik, untuk diberikan kepada saudaranya sesama manusia lainnya. Tingkah laku demikian tidak hanya cocok dengan ajaran agama dalam arti sempit, namun juga sangat sesuai dengan nilai-nilai  universal.

Sebaliknya, tingkat jahat seperti membunuh, menganiaya adalah sesuatu yang bertentangan dengan ajaran agama dan nilai-nilaikemanusiaan universal dan dianggap sebagai perbuatan menyimpang (deviant). Termasuk jika kejahatan itu dilakukan atas nama agama seperti mengobrak abrik diskotik seenaknya, sweeping orang-orang bule yang kafir, melakukan aksi bom bunuh diri di tengah-tengah Masyarakat ramai di wilayah bukan perang, dan sebagainya.  Pendek kata, agama tak memperkenankan ajaran-ajarannya yang suci, santun, dan manusiawi di kotori oleh perbuatan manusia-manusia jahat.
Karena itu, sejatinya kebaikan agama dan kebenaran agama harus lah menjelma menjadi nilai-nilai kasih sayang (rahmah) bagi seluruh umat manusia sebagai mana sifat Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang bagi seluruh umat manusia. Jika benar fitrah bagi manusia sebagai watak alamiah nya adalah untuk mencari dan memihak kepada yang baik dan benar, maka sungguh pada manusia terdapat naluri untuk beragama.  Naluri itu lah yang   melahirkan berbagai kepercayaaan kepadaTuhan, Naluri tersebut mendorong manusia untuk percaya pada suatu wujud yang Maha Kuasa dan berupaya membangun praktik-praktik ritual dalam rangka memujanya.
Sejarah agama-agama dunia telah merekam bagai mana para pencari Tuhan pada akhirnya mendapati agama mereka dengan nama yang berbeda-beda: Yahudi, Nasrani, Islam, penamaan agama atas pemujaan mereka pada ruh-ruh nenek moyang yang biasa dikenal dengan nama animisme. Tetapi di dunia Barat ada sebagian sarjana, salah satunya Durkheim menyakini di dunia yang semakin modern ini pengaruh agama akan semakin menurun. Pengaruh selanjutnya akan diambil alih oleh penjelasan-penjelasan dan kegiatan upacara keagamaan akan menepati sebagian kecil saja dalam waktu kehidupan seseorang.
                 Durkheim sepakat dengan Karl Marx, bahwa agama tradisional yakni yang  mengakui adanya kehadiran Tuhan dan kekuatan Ilahiah sedang berada diambang kehilangan eksistensinya “Tuhan yang dulu telah mati” (The Old Gods Are Dead). Bentuk alternative agama di dunia masyarakat modern seperti yang diutarakan Durkheim sebelumnya dikenal dengan nama Civil Religion atau dengan nama Agama Sipil, di definisikan sebagai sekumpulan kepercayaandan ritual diluar institusi keagamaan formal yang sudah ada.
                   Agama sipil menurut Rousseau adalah keyakinan yang mempersatukan pemujaan Tuhan dengan kecintaan pada undang-undang. Namun, hal yang disayangkanoleh Rousseau adalah praktik agama sipil yang salah kaprah. Ia menjadi eklusif dan tiran ketika pemeluk nya harus berperan untuk menyerang negeri lain atas nama nasionalisme.
Apa yang dijelaskan Rousseau tentang agama sipil diatas menyiratkan bahwa sebenarnya merupakan bentuk kepercayaan, ritual pemujaan, simbol-simbol dan institusi yang mengakui system sosial yang menciptakan solidaritas social dan memobilitas masyarakat untuk tujuan bersama.
                   Di Australia misalnya ada ANZAC day, yakni hari libur nasional untuk memperingati jasa-jasa para pahlawan yang telah meninggal dalam peperangan. Pada hari itu biasanya orang melakukan upacara bendera dengan dihadiri pejabat Negara dan para veteran yang masih hidup.



   B.    Sumbangan Agama Dalam mengatasi Manusia Modern.

          Apakah Kita Bisa Katakan Bahwa Pengalihan Perhatian Pada Agama di luar agama resmi, seperti agama sipil (civil religion), Merupakan cerminan dari adanya krisis dalam agama? Apakah agama yang ada sudah tidak mampu lagi memberikan rumusan jawaban bagi persoalan kemanusiaan seperti konflik agama ,peperangan ?, apakah adanya krisis agama lalu manusia memerlukan agama yang sama sekali baru?, dan Pertanyaan pertanyaan lain yang lebih membumi dan menzaman sesuai tuntunan dunia modern?, Pertanyaan-pertanyaan tersebut memerlukan perenungan mendalam dan uraian panjang guna menjabarkan jawabannya.
            Agama-Agama Mengajarkan Bahwa ada dua realitas yang secara ontonologis berbeda ,yakni ;
1.     Yang Ilahi, absolute, kekal, mencipta, dan memerintah.
2.     Yang Material, Manusiawi, diciptakan, tidak kekal dan tunduk pada perintah Ilahi.
Dua fakta ini mengendalikan suatu kepastian hubungan antara Tuhan dan Manusia sebagai sesuatu yang lumrah, apa adanya dan tak terhindarkan. Tuhan menciptakan makhluk nya agar tunduk kepadanya. Manusia diciptakan untuk tujuan ini, yakni mengabdi kepada Tuhan dan memujanya. Inilah yang disebut prinsip monoteistik: (pengabdian semata pada satu Tuhan Oleh Mahkluk-Nya.
             Dengan konsep monoteistik ini, manusia harus belajar dari sejarah agama yahudi yang mengajarkan bahwa semua umat manusia memiliki kewarganegaraan yang sama dibawah hokum Ilahi, dan diumumkan secara resmi oleh raja Negara-dunia, Hammurabi. Dengan ajaran ini manusia pada hakikatnya adalah sama di mata Tuhan. Kekayaan, kebudayaan, bahasa, dan tradisi yang dimiliki segolongan tertentu manusia hanyalah pemanis hidup belaka karena hal terpenting adalah keterikatannya secara ikhlas kepada Tuhan-Nya.  Prinsip monoteistik Kristen mengajarkan bahwa agama adalah untuk keselamatan manusia, maka manusia sesungguhnya dipenuhi oleh kesadaran untuk iman kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

            Adapun islam yang memang dari awal Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa ajaran Islam telah mendeklarasikan dirinya sebagai utusan Allah SWT untuk misi etis-keagamaan (inni buistu li utammima makarima al-akhlaq; Aku diutus untuk menyempurnakan moral manusia). Misi etis keagamaan mengisyaratkan bahwa perilaku kita sebagai manusia harus merefleksikan sifat-sifat ke-ilahiah-an dalam menjalani pergaulan hidup antar umat manusia. Begitulah nabi Muhammad SAW memberi petunjuk  “berakhlaklah kamu dengan akhlak Allah” (takhallaqu bi akhlaqillah), yaitu kita dianjurkan “meniru” sifat-sifat Allah.
            Dengan demikian bukan berarti kita hendak menyamakan diri dengan Allah SWT, tapi sifat-sifat Allah SWT yang serba sempurna harus menjadi pedoman dan titik orientasi seluruh kegiatan kita, dalam rangka usaha memperoleh ridha Nya. Sekiranya misi etis-keagamaan ini disadari sepenuhnya oleh umat Muslim Sedunia dan menjelma dalam perilaku selama hidupnya, niscaya kejayaan islam sebagai rahmatan lil alamin akan membahana hingga ke ufuk dunia dari ujung timur hingga barat sebagaimana telah dibuktikan sepanjang Kepemimpinan Rasulullah SAW dan Khalifah al-Rasyidah.
            Rasulullah SAW telah memberi teladan dalam hal mempersatukan persaudaraan antar umat manusia. Nabi SAW berusaha mencari titik pertemuan dengan berbagai golongan di madinah dengan terlebih dahulu mengakui hak eksistensi masing-masing kelompok dalam dokumen yang dikenal “Konstitusi Madinah”. Kemudian Khalifah Kedua , ‘Umar ibn al-Khaththab, meneruskan sunah nabi yaitu dalam sikapnya terhadap penduduk yarussalem, dalam dokumen yang kemudian dikenal juga sebagai “Piagam Aelia” (karena yerussalem saat itu juga dikenal dengan sebutan Aelia).





           Apa yang telah diteladankan oleh Nabi SAW dalam Sunnah beliau yang kemudian diteruskan oleh ‘Umar’ , itu juga dipertahankan oleh para khalifah sesudahnya. Para khalifah Umawi di Andalusia (Spanyol),misalnya, juga dengan konsisten menjalankan politik kemajemukan yang mengesankan. Bahkan politik kemajemukan yang dibawakan Islam ke Spanyol itu dilukiskan oleh Max Dimont sebagai rahmat yang mengakhiri kezaliman keagamaan Kristen.diamont menggambarkan bagaimana kedatangan Islam ke Spanyol setelah mengakhiri kristeni paksa oleh penguasa sebelumnya.
            Kemudian Pemerintah Islam selama 500 tahun menciptakan 3 agama di Negara Spanyol; Islam, Kristen, dan Yahudi hidup rukun dan bersama-sama menyertai peradaban yang gemilang. Kerukunan agama ini tidak harus mengakibatkan penyatuan agama. Sebagian besar rakyat Spanyol tetap Beragama Kristen. Tapi kerukunan itu menghasilkan percampuran darah lebih dari pada percampuran agama.
            Semangat mengemban amanat ilahi pada diri Rasulullah SAW dan para Khalifah untuk merespon persoalan kemanusiaan di titiknya yang paling sensitive, yaitu mengelola masyarakat  yang memiliki keyakinan beragama berbeda-beda, harus bisa diupayakan pelaksanaannya di sepanjang masa.mengulang kembali kejayaan islam pada jaman dahulu sebagai rahmatan lil alamin untuk masa sekarang dan yang akan dating sesungguhnya bagi kaum Muslimin merupakan pekerjaan yang lebih ringan karena adanya pengalaman masa lalu yang dapat dijadikan rujukan. Hal ini juga mencerminkan bahwa sebenarnya prinsip-prinsip islam sudah sangat modern melampaui zamannya, dan bisa di praktikkan di dunia serba canggih seperti sekarang ini.
             

 Dari paparan panjang diatas kita bisa bisa mengambil kesimpulan bahwa prinsip-prinsip agama bersinergi dengan prinsip-prinsip kemanusiaan. Sebagaimana prinsip kemanusiaan tidak mungkin bertentangan dengan prinsip keagamaan, maka prinsip keagamaan mustahil berlawanan dengan prinsip kemanusiaan. Maka sesuatu yang sejalan dengan prinsip itu sendiri tentu akan bertahan di bumi, sedangkan yang tidak sejalam maka tentu akan sirna. Agama berasal dari Tuhan , dan justru dengan cara kita memperoleh ridha Allah itu manusia sesungguhnya telah melakukan hal yang terbaik untuk dirinya sendiri.

Kesimpulan:
Beragama Merupakan Kewajiban Setiap Manusia. Agama Muncul dan berkembang seiring perkembangan manusia. Kepercayaan manusia terhadap Tuhan bukanlah sifat lemah sebagaimana dituduhkan oleh paham materialism. Namun justru kebutuhan Rohani dan Jasmani adalah sumber kekuatan dalam menjalani kehidupan.











Daftar Pustaka


                   Razak, Yusron dan Tohirin.  2011. Pendidikan Agama. Jakarta

0 komentar:

Posting Komentar